Masih Tentangnya
Tuhan, masih tentang
dirinya,, dirinya yang selalu mengisi hari-hariku yang kadang senang dan kadang
sedih ini..
Tuhan, ku tuliskan
segenap rasaku disini,, aku bingung dan aku ragu, dimana tempat yang pas untuk
ku bercerita, menepis gundah, tentang asa, dan tentang rasa.. Tuhan, mungkin
Engkau tempat yang pas untukku bernaung saat ku senang ataupun sedih.
Tuhan, ini masih
tentangnya, tentang rasa itu yang sunnguh ku tak mengerti. Kadang menyenangkan
dan kadang pula menyedihkan. Setelah sekian lama aku mencoba menghindar, rasa
itu mungkin muncul lagi, membuatku resah. Aku sudah mencoba mencari pengganti,,
tapi apa daya rasa yag tak terhiraukan itu muncul lagi..
Tuhan, haruskah aku
senang, dan haruskah aku sedih..
Dia yang tak menghiraukan,
dia yang tak menyadarinya.. dia tak menghargai dan apakah dia ingat tentang
masa2 itu, mungkin dia telah lupa.. aku
memang takk berarti, aku tak sempurna, tapi aku
mencoba menjadi yang terbaik. Walaupun harapan dan asa itu telah pudar,
aku menyadari aku tak patas untuknya, bernaung dihatinya atau sekedar menyapa
pun aku tak mampu.
Lalu apa yang harus
aku lakukan Tuhan, aku terlalu pusing memikirkanya. Mungkin dia telah mempunyai
seseorang yang jauh lebih baik daripada aku saat ini, dia mempunyai segalanya lalu apa yang ku
punya ? aku hanya punya segenap rasa yang gila ini, rasa yag seharusnya tak
muncul lagi setelah terucapnya janji perpisahan itu.
Tuhan, masih teringat
jelas masa-masa itu, masa yang mungkin telah ia lupakan saat ini dan esok
nanti..
Saat pertama aku
mengenalnya, menyapanya, senda gurau itu, janji masa depan dan kata perpisahan
itu. Tuha, kalu aku boleh jujur kepadanya aku akan menjadi yang terbaik
untuknya, aku rela jika ku hanya sebagai teman saja itu sudah megobati rasa yan
gila ini, karena au yakin aku tak mampu.. aku terlalu kecil, kurang baik
untunya.
Tuhan,, apa yang
sebenarnya terjadi padaku?
Tuhan, jika aku mampu
menjadi yang terbaik untuk diriya. Dekatkan aku lagi denganya. Karena aku tak
akan rela ia bersanding dengan yang lain,
aku lelah menyembunyikan dihadapan teman2ku. Ku rasa, hanya aku yag bisa
menerima segala kekuranganya tak ada yang lain. Aku memang munafik, aku yang
menyakiti diriku sendiri.. Aku memang bodoh,, tapi apa daya, aku tak mampu
mengatakan pada dunia ini.
Tuhan, jika aku tak
memang benar-benar tak mampu memberikan yang terbaik untuknya, berikan
seseorang yang mampu membuat ia bahagia karena aku memng tak pantas untuknya.
Aku ingin melihat ia tersenyum. jauhkan aku, lalu berikan aku penggantinya yang
lebih baik yang mampu memberikan janji masa depan yang lebih baik lagi..
Tuhan, cukup sekian
aku bercerita, mengadu dan berkeluh kesah.. Semoga Engkau senantiasa memberkahi
segala langkahku dan langkahnya. Aamiin. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar